My pLayLisT

Jumat, 07 Juli 2017

Outlast 2

             Satu lagi PC game yang udah kelar gw khatamkan. Berjudul Outlast 2, merupakan salah satu game sukses yang mengusung genre horror (horor murni lho ya), berbeda dengan game survival-horror dimana pemainnya dipersenjatai untuk mampu melawan, dalam game horor murni ini, pemainnya hanya menunggu waktu untuk "mati". Yapz! karena tokohnya hanya mampu melarikan diri atau bersembunyi untuk bertahan hidup dari musuh.
             Untuk plotnya sendiri, berbeda dari Outlast versi pertama yang mengambil latar di sebuah rumah sakit jiwa (Assylum), Outlast 2 berkisah tentang sepasang suami-istri jurnalis yang ingin mengungkap kematian misterius seorang ibu hamil serta janin dalam kandungannya, yang akhirnya membawa mereka menelusuri "neraka dunia" di dalam teritori Arizona yang misterius dan pertikaian antara 2 kubu : anti-christ (iblis) & "The Heretics". Mampukah sang suami menemukan istrinya yang juga menghilang setelah helikopter yang mereka tumpangi terjatuh dalam perjalanan mereka menemukan kebenaran?
              Walau game ini hanya berbekal Unreal Engine 3 yang terhitung "lawas" yang telah dimodifikasi optimal sebagai basis, game ini hadir dengan kualitas visualisasi yang jauh lebih mumpuni daripada pendahulunya, bahkan mencapai kualitas foto-realistis di beberapa titik. Bagi gw lumayan memanjakan mata lah walau memiliki setting "dark-night" yang cukup menyusahkan.
               Tantangan yang gw suka dari game yang awalnya gw cap "aneh bin geje" ini, selain tidak dipersenjatai dengan senjata atau kemampuan survival lainnya, pemain harus direpotkan dengan merekam / memfoto beberapa scene sebagai petunjuk (kadang malah sambil melarikan diri dari kejaran musuh), tapi di lain pihak, camcorder ini bisa digunakan untuk menguasai medan yang gelap dengan menjadi perpanjangan mata serta telinga lewat fitur Flash & micnya yang bisa menyinari saat suasana benar-benar gelap dan kita harus mendeteksi kehadiran musuh lewat suara langkahnya sambil bersembunyi (lumayan membantu lah), walau harus pinter menghemat baterai karena kita hanya akan menemukan baterai karena kita hanya akan menemukan baterai dan perban di tempat-tempat tertentu saja (paling sering gw mah kehabisan perban gara-gara sering bolak balik ke tempat sebelumnya karena lupa arah, yang bikin gw sering ketahuan musuh.......hehe). Karena emang di sini juga tidak tersedia map / GPS buat menentukan lokasi & arah yang dituju ( ada aja gw sering nyasar, apalagi ini........makanya sering "mati" sia-sia.....haha).
                 Gimana, udah ada gambaran kan tentang game Outlast 2 ini ? yah, overall game ini mampu menghadirkan ketakutan, kecemasan, dan adrenalin secara konsisten lewat visualisasi, audio, dan mekanik gameplay yang mumpuni (khususnya buat cewek penakut kayak gw yang nonton film horor rame-rame di bioskop aja lebih banyak teriak-teriaknya daripada nonton filmnya......hehe). Pokoknya, kualitas game ini cukup membuat siapapun yang memainkannya menyalakan lampu, melepaskan headset, dan akhirnya memilih menggunakan speaker dengan volume seminimal mungkin dan meningkatkan brightness dan contrast ke level maximum di setting game dan monitornya. Masih nggak percaya? silahkan dicoba aja langsung !


Nb : Outlast 2 =spOoky b*st*rD!!!!
* cocok buat : pecinta game horor klasik bin sadis yang mengangkat tema aliran sekte sesat.
* nggak cocok buat : gamer yang g suka game horor tanpa mampu melawan & sering bingung arah (kayak gw) karena berpotensi terkena serangan jantung, amnesia mendadak ataupun kematian sia-sia..........wkwk - apalagi klo mainnya sendirian n malem-malem ^_^

sekian review game kali ini, walau gw bukan pecinta game horor, tapi bukan KiTHz namanya klo berhenti di tengah-tengah permainan....hoho





Senin, 12 Juni 2017

~~~Galeri~~~


//day-1//

Kakiku benar-benar terasa mau copot, dan mati-matian sudah aku mempertahankan senyum ramah di wajahku sejak pagi ini, menyapa ratusan orang, menyalami puluhan mitra kami baik dari pelukis ternama hingga kolektor dan penikmat lukisan. Pameran ini harus sukses, walau baru sebuah pameran pembuka tapi selagi aku dan partnerku Frans, penanggung jawabnya, everything must be perfect.
Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 8 malam, saatnya memastikan semua pengunjung sudah meninggalkan galeri ini karena 1 jam lagi tempat ini sudah harus ditutup. Sampai aku melihat seorang pria masih berdiri memandangi sebuah lukisan, kuperhatikan pria itu sejenak, kutunggu sampai dia berminat untuk meninggalkan tempat itu dengan sendirinya, karena bagiku sangatlah tidak sopan untuk mengganggu seseorang yang sedang menikmati sebuah lukisan. Akhirnya aku memutuskan memanggil pak Pras, satpam gedung ini yang sedang berlalu di depanku. "Pak, tolong pastikan semua pengunjung sudah meninggalkan tempat ini ya, sepertinya masih ada seorang pengunjung di sana." kataku sambil menunjuk ke sebuah sudut dimana pria itu berdiri. Dengan muka sedikit bingung, pak Pras mengiyakan permintaanku dan akupun pergi untuk mengemasi barang-barangku sebelum pulang.

//day-2//
Syukurlah, hari ini pun segalanya berjalan lancar. Seperti biasa, 1 jam sebelum tempat ini ditutup, aku berkeliling untuk memastikan bahwa semua pengunjung sudah keluar sambil memastikan kondisi semua lukisan yang dipamerkan, sedangkan Frans mengurus urusan lainnya di ruang staff. Dan aku kembali menemui pria itu, sedang berdiri melihat lukisan yang sama seperti kemarin. Alih-alih memanggil pak Pras, kali ini aku memilih untuk mendatangi pria tersebut. Entah, aku seperti merasa sedikit penasaran akan pria itu. "Maaf pak, sepertinya Anda harus segera meninggalkan tempat ini karena sebentar lagi tempat ini akan kami tutup dan lagi pula kamera tidak diijinkan untuk masuk ke arena pameran ini." kataku sambil melihat ke arah kamera di tangan kanannya yang aku tak menyadarinya sebelumnya. Pria itu menoleh ke arahku sambil tersenyum. Oh my God! aku tak menyadari bahwa pria ini begitu tampan, kulitnya sangat putih bagai salju, matanya berwarna coklat terang yang begitu teduh dan menenangkan, dan senyumnya, senyum itu.......oh God, rasanya aku mulai meleleh.
"Apa kamu tahu arti sebuah lukisan?" tanyanya. Seketika aku kembali sadar dan berusaha menjawab pertanyaannya. "Setiap lukisan memiliki arti yang berbeda bukan, tergantung siapa yang melukisnya ataupun yang menikmatinya." jawabku sambil merasa sedikit jengkel karena sepertinya tak ada tanda-tanda bahwa pria ini akan segera meninggalkan tempat ini, dan malah mengajakku membicarakan hal yang sudah sejak pagi lelah aku perbincangkan dengan puluhan pengunjung lainnya.
"Lukisan mengandung makna sebuah kenangan, baik kenangan yang akan dirindukan oleh pelukisnya, ataupun kerinduan yang tiba-tiba muncul saat orang-orang melihatnya. Ingatlah bahwa setiap lukisan memiliki cerita, perasaan dan harapannya sendiri. seperti halnya sebuah kerinduan dan kenangan." Jawabnya sambil kembali memandangi lukisan itu penuh arti. Akhirnya aku pun memandangi lukisan itu, tapi sepertinya ada yang aneh, lukisan ini menggambarkan sebuah latar pantai dan senja, tapi seperti ada bagian yang hilang, seperti sebuah lukisan yang belum selesai, dan aku tak ingat pernah meletakkan lukisan ini di sudut ini. Atau lebih tepatnya aku tak ingat pernah melihat lukisan ini. Sebuah hal yang tak wajar mengingat bahwa semua lukisan yang ada di galeri ini sudah seperti anakku yang kurawat sendiri, dan aku mengingat setiap detail lukisan-lukisan yang dipamerkan di galeri ini.
"Apa kamu pernah jatuh cinta?" pria itu kembali mengajukan pertanyaan dan memandangiku yg ukuran tubuhku jauh lebih mungil darinya, sehingga setiap aku memandang wajahnya, aku harus sedikit mendongakkan kepalaku, membuatku tak nyaman. Ataukah pertanyaannya yang lebih membuatku tak nyaman. Apa-apaan sih pria ini, protesku dalam hati.
"Sekali lagi mohon maaf, sepertinya kami sudah terlambat untuk menutup tempat ini." elakku sopan lalu meninggalkannya.
sesaat aku sempat mendengarnya berkata ; " Biarkan cahaya itu menuntunmu."
Saat kulihat pak Pras melewatiku, aku buru-buru memanggilnya dan memintanya untuk menyuruh pria itu segera meninggalkan tempat ini, tak lupa aku menegurnya karena telah lalai membiarkan seseorang memasuki galeri dengan membawa kamera. Lagi-lagi aku langsung pergi meninggalkan pak Pras yang masih tampak kebingungan. Aku harus bergegas, aku sudah terlambat untuk pulang, pikirku.

//day-3//
Aku benar-benar bersyukur bahwa penutupan pameran hari ini berjalan lancar. Setelah aku, Frans dan seluruh tim melakukan rapat evaluasi kami memutuskan untuk segera pulang dan akan merapikan seluruh lukisan di hari berikutnya. Karena hari ini sudah sangat larut dan aku tahu semua orang pasti sudah sangat lelah. Aku pun berjalan menuju pintu keluar bersama Frans, saat aku melewati sebuah sudut dimana aku bertemu dengan pria aneh beberapa hari ini, aku bergumam lirih ; "hari ini sepertinya pria itu tidak datang."
"siapa ?" tanya Frans mengagetkanku. kupikir suaraku tak didengar olehnya tadi.
"seorang pria aneh yang selalu memandangi lukisan itu setiap kali kita akan menutup tempat ini, seorang pengunjung terakhir." kataku
"lukisan?aaahhh.....lukisan seorang pria di sana itu?" ucap Frans yang membuatku sedikit bingung.
"Lukisan seorang pria? bukankah yang ada di sana hanya sebuah lukisan berlatar pantai dan senja yang aneh?"
"Aneh? apa maksudmu?"
"Aneh, seperti lukisan yang belum selesai."
"Haahahaha......mana mungkin kita memajang lukisan yang belum selesai seperti itu, Rhea?" tawa Frans sambil memandangku aneh.
Penasaran, akupun menarik tangan Frans dan menyeretnya ke sudut dimana lukisan itu berada.
Dan......betapa terkejutnya aku, di sana.....aku melihat sebuah lukisan yang berbeda. Tak sepenuhnya berbeda sebenarnya, karena latar lukisan itu sama yaitu pantai dan senja, hanya saja......hanya saja.....bagian yang hilang itu kini telah kembali. Menyempurnakan lukisan itu. Wajah seorang pria, yang seputih salju, bermata cokelat terang yang teduh dan menenangkan, dan tersenyum sambil memegang sebuah kamera. Senyum itu, senyum yang tak pernah bisa kulupakan sejak pertama kali bertemu dengannya. Jantungku berdebar tak karuan, perasaan hangat yang mistis menjalar ke sekujur tubuhku. Otakku seakan beku tak mampu menerjemahkan semua yang terjadi.
"Lukisan ini, kenapa berubah?"
"berubah? seingatku memang seperti inilah lukisan itu sejak awal? Aku dengar dari pak Pras kalo setiap kita akan menutup galeri ini kamu selalu memandangi lukisan ini. Dan setelahnya kamu berbicara tentang seorang pria yang tak pernah pak Pras.........bla.....bla....."
suara Frans tiba-tiba tak terdengar lagi, dan aku seperti terhisap masuk ke dalam lukisan itu. Aku mendengar suara deburan ombak, desiran angin sore, dan suara seseorang yang sedang mengutak-atik sebuah benda,yang tiba-tiba dia menoleh kearahku. sambil sayup-sayup kudengar suaranya berkata "Biarkan....cahaya....itu....menuntunmu."
Zzzrruuukkkkk.......!!! aku merasa kakiku lemas, dan terjatuh ke dunia dimana aku kembali mendengar suara Frans, kutarik tangannya, seketika dia terdiam, menoleh ke arahku, dengan wajah pucat.
"Rhea.....kamu g apa-apa?"
Aku benar-benar tak mengerti......tapi.....
"Frans.......sepertinya......aku jatuh cinta."


~~~Jakarta, 10 Juni 2017~~~

Minggu, 23 April 2017

Senja bersama Babeh



       Aku meneteskan beberapa obat tetes mata yang diresepkan oleh dokter pasca operasi mata babeh kemarin secara hati-hati. “sudah semua, ta?” tanya babeh. “sudah, beh”, jawabku sambil menutup kembali mata babeh dengan benda berbentuk mangkuk yang terbuat dari kaca dengan plester. Fungsi benda ini adalah untuk menjaga sementara mata babeh yang baru selesai dioperasi dari gangguan atau bersinggungan langsung dengan mata serta meminimalisir kemungkinan adanya debu yang masuk ke mata babeh. Kurapikan obat-obatan serta peralatan lainnya ketika babeh berkata “hehehe…..ternyata jadi lansia itu repot ya, badan kita umurnya cuma bisa sekitar 63 tahun standarnya kalo mengikuti Rasulullah, tapi kalo Allah ngasih bonus panjang umur ya mesti sabar-sabar juga punya badan yang udah mulai nggak bisa mengikuti keinginan jiwa. Mulai eror sana sini. Raga itu fana, sedang jiwa kita kekal sampe dipanggil ketemu sama yang bikin nanti.” Seketika kutinggalkan aktifitasku sejenak lalu duduk sambil memandangi babeh, lelaki yang baru kuketahui akhir-akhir ini ternyata punya sifat manja juga. Kupandangi wajah beliau yang entah karena sudah makin menua atau karena menahan sakit menjadi makin terlihat lelah dari waktu ke waktu, tapi senyum jenakanya kadang masih melekat sehingga terkadang wajahnya kembali terlihat kuat dan muda. Menjadi lansia yang sudah melewati usia Rasulullah seperti babeh memanglah tidak mudah, terlebih dengan rutinitas harus terus mengkonsumsi insulin demi menahan gejolak penyakit Diabetesnya serta telah merasakan entah untuk keberapa kali kehilangan rekan-rekan seperjuangan beliau yang sudah terlebih dahulu meninggalkan dunia ini, telah membuatnya tak lagi memiliki teman bertukar pikiran dan hobi lama yang telah usang. Mungkin terasa sepi, pikirku. Kehilangan teman-teman sepermainan. Aku jadi teringat ketika beberapa kali aku bersama teman-teman bidan membuat acara posyandu lansia semasa kuliah dulu. Walau kami bukan dokter yang bisa mengobati, setidaknya kami berusaha mengetahui kondisi kesehatan dasar para lansia itu serta membuat acara yang harapannya bisa sedikit menghibur para lansia dengan berkumpul dan saling berinteraksi bersama-sama itu. Saat itu,kami ingin lansia yang kami temui bisa sehat, mandiri serta bahagia. Ya, bahagia adalah kunci kesehatan lansia, dimana tubuh mulai terbatasi kemampuannya, hanya dengan berpikir positif serta bahagialah sumber kekuatan mereka untuk dapat beraktifitas sehari-hari secara baik dan mandiri. Hanya saja terkadang kita sebagai pendamping atau orang yang hidup bersama mereka tidak tahu bagaimana cara terbaik memperlakukan mereka. Masih banyak orang yang menganggap mengurus lansia adalah hal yang merepotkan, memperlakukan mereka layaknya bayi yang tak tahu apa-apa, padahal di sisi lain malah memberikan tekanan emosional atau beban hidup lainnya secara langsung atau tidak kepada mereka. Dampaknya malah membuat lansia-lansia itu merasa dirinya menjadi beban, tak berani melakukan aktifitas yang mereka inginkan karena keterbatasan yang sejatinya malah terbentuk karena banyaknya dibatasi oleh lingkungan sekitarnya yang akhirnya membuat tubuh mereka perlahan-lahan menjadi rapuh. Aku pun menyadari hal ini saat berinteraksi dan mengobservasi orang tuaku sendiri. Bahwa seharusnya cara memperlakukan mereka tak berbeda dengan saat mereka masih segar bugar dahulu, menghormati, membiarkan mereka menentukan pilihan-pilihan mereka dan kegiatan apa yang mereka ingin jalani. Bukan membatasi, hanya mendampingi jikalau sekiranya mulai membahayakan atau tidak sesuai dengan kondisi kesehatan mereka. Seperti babeh yang suka rewel kalo aku sudah mulai memberikan tanda peringatan pada menu diet yang sudah melewati batasan konsumsi penderita diabetes, walau kami harus beradu argumen beberapa kali, mencari alternatif solusi lain serta berakhir dengan menentukan kesepakatan-kesepakatan (yang walau akhirnya babeh akan melanggar, dan kita harus mengulang siklus itu kembali dari awal, kembali beradu argumen), setidaknya kita melibatkan lansia itu tanpa harus secara terang-terangan memaksakan kehendak kita tanpa mengindahkan pendapat/keinginan mereka. Di sinilah mereka merasa dihargai dan diakui keberadaannya sebagai pribadi secara utuh (ingat kebutuhan dasar setiap manusia adalah dihargai dan diakui).
                “Kok malah bengong, tadi katanya mau pergi?” tegur babeh demi melihatku yang malah duduk terdiam di sampingnya, sambil menyeruput teh hangat dari cangkir di depannya, babeh balas menatapku. “Nggak jadi ah, udah kesorean bentar lagi maghrib” jawabku sekenanya. Entah mengapa aku jadi malas untuk beranjak dan memilih menemani babeh duduk-duduk di teras rumah sambil memandangi tingkah polah burung-burung peliharaan babeh serta anak-anak tetangga yang masih asyik bermain di depan pintu gerbang rumah kami. Babeh, cowok cool disampingku ini memang terkenal tegas dan kaku, tapi sebenarnya mudah bergaul dengan orang lain. Mungkin karena dulu babeh bekerja sebagai abdi Negara yang kerjanya melayani masyarakat. Babeh selalu berkata bahwa pekerjaan yang paling menyenangkan adalah pekerjaan melayani masyarakat. Makanya dulu babeh sangat senang saat mendengar aku lulus ujian masuk akademi kebidanan-yang kelak pekerjaannya sebagai bidan-tentu akan membantu orang banyak, yang sebenarnya pada awalnya malah bagaikan sebuah petaka besar bagiku dimana aku akan memasuki pintu gerbang nerakanya dunia (ok ini cuma perspektifku jaman jahiliyah dulu lho….hehe). Sejak kecil babeh mendidik anak-anaknya dengan sangat keras dan ketat untuk urusan pendidikan, khususnya pendidikan agama, karena babeh merasa kehidupan di perantauan khususnya Jakarta sangatlah keras dan penuh godaan. Terbukti saat aku SD ada teman sekelasku yang sudah hamil di luar nikah, tak jarang setelah lulus SD teman-temanku pun banyak yang putus sekolah, saat SMP kehidupan anak-anak borjuis mengelilingiku (karena aku sekolah di salah satu SMP favorit di wilayah tempat tinggalku, Jakarta barat), dan saat SMA, madol (bolos) bwt ngemall bareng, clubbing, balapan, ngerokok jadi kegiatan beberapa siswa di luar sekolah (padahal sekolahku ini juga termasuk sekolah negeri unggulan, lho). Dari aku bisa baca A-B-C dan masuk TK, babeh pun memasukkanku ke TPA untuk belajar mengaji, jadi dari TK sampe besar aku punya 2 sekolah yaitu menjadi murid di sekolah formal pemerintah sekaligus menjadi santri tidak tetap di pesantren dekat rumah (walaupun pindah-pindah karena jadwal sekolah yang berubah-ubah). Selain itu saat SMP dan SMA aku boleh ikut kegiatan ekstrakulikuler lain hanya jika aku juga tergabung dalam ekskul ROHIS sekolah. Alhasil dari SMP aku sudah terbiasa memegang dan aktif dalam 2 organisasi sekaligus. SMP dengan ROHIS-PMR, SMA berjibaku dengan ROHIS-KEMPO lalu jaman kuliah D3 Keputrian-senat mahasiswa. Jadi nggak usah heran klo pas kuliah profesi S1 Bidan aku dianggap rekan-rekan sebagai anak hiperaktif yang masih sempet-sempetnya nengokin 2 organisasi yang aku ikuti walau jadwal jaga klinik-ujian-serta nyusun laporan susul-menyusul tiada henti. Udah biasa aja, soalnya dari remaja unyu-unyu kenal organisasi kerjaannya dari pagi sekolah plus kegiatan ekskul pulang sekitar jam 5 sore, lalu selepas maghrib harus nyantri sampai sekitar pukul 8 malam, selesai itu jangan harap bisa langsung istirahat, karena tugas sekolah telah menanti untuk dikerjakan. Tapi berkat didikan itu akupun bisa terselamatkan dari pergaulan bebas yang nggak jelas juntrungannya,” karena hidup aku sendiri aja udah ngos-ngosan….wkwkwkwk”. Babeh bilang alasan lain beliau bersikap begitu karena dulu semasa remajanya di desa, beliau sulit untuk menemukan tempat atau waktu untuk tambahan belajar agama, “maklum selepas sekolah harus membantu orangtua di sawah” begitu kata babeh.
                Babeh bukan orang tua yang senang memberikan petuah bijak, tapi bliau mengajarkan nilai-nilai kehidupan langsung dengan praktik sehari-hari. Seperti contohnya sejak kecil setiap minggu pagi babeh selalu mengajak aku berbelanja ke pasar tradisional. Padahal bagi anak super sibuk kayak aku (eaaa……) hari minggu pagi hanyalah satu-satunya waktu untuk sedikit “bermalas-malasan” dengan bangun siang atau menonton film kartun pagi. Tapi apalah daya, dengan mata setengah tertutup serta badan yang masih melayang aku menemani babeh pergi ke pasar dengan mengendarai vespa kesayangannya. Di pasar babeh tak pernah menawar harga pada penjual khususnya jika penjualnya sudah tua. Babeh bilang itu salah satu cara kita menghargai jerih payah orang-orang di pasar yang sudah sejak dini hari bekerja keras mengais rejeki. Sepanjang perjalanan di pasar pun kadang babeh mampir untuk membeli barang-barang atau jajanan yang sebenarnya tidak ada pada list belanjaan yang ibu buat, semata-mata karena penjualnya nenek-nenek atau kakek-kakek sepuh, yang biasanya berujung di rumah babeh kena omel ibu. Tapi babeh selalu tersenyum kepadaku yang menanyakan alasannya mau saja kena marah ibu setiap pulang dari pasar karena perbuatannya itu, babeh cuma bilang anggap aja amal mingguan, lalu setelah dimarahi ibu babeh pun pergi keluar untuk membagikan barang atau jajanan tadi pada tetangga yang membutuhkan. babeh memang bukan ustadz yang berbicara tentang dalil-dalil, tapi bagiku, kadang perilaku-perilaku uniknya lebih mengena menjadi sebuah pelajaran hidup yang terpatri kuat dalam ingatanku melebihi puluhan dalil-dalil yang diucapkan ustadz-ustadzku (mungkin karena aku belajar dengan sisa-sisa tenaga di penghujung hari kali ya…..wkwkwk). Babeh mengajarkan untuk tidak pernah lupa pada orang-orang kecil yang mungkin secara ekonomi belum lebih beruntung daripada kita. Karena mungkin saja doa-doa ataupun sekedar ucapan terima kasih  yang secara tak sengaja atau pun disengaja mereka ucapkan untuk kita diijabah oleh Allah. Bukankah doa kaum dhuafa mampu langsung menembus langit dan langsung didengar oleh Allah?. Bisa jadi doa-doa itu yang menolong kita kelak.
                “Allahu Akbar…..Allahu Akbar…” adzan magrib telah berkumandang, senja pun mulai masuk ke peraduan, tak terasa pikiranku melayang entah kemana. Dalam diam kami bercengkrama, bernostalgia dengan waktu bersama-sama. Entah sampai kapan aku bisa melihat senja bersama babeh, seiring kedewasaan dan waktu yang melesat dengan cepat, suatu saat aku pun akan merindukan masa-masa ini. Tapi bagiku kini, bisa bersama babeh menikmati senja merupakan kenikmatan yang tak akan pernah tergantikan. Semoga babeh sehat selalu, I love you babeh ^_^

Jumat, 09 Desember 2016

Memahami Konsep Waktu



Waktu. Siapa sih yang tak kenal dengan waktu, sedang hidup kita selalu berjalan beriringan dengan waktu. Tapi apa benar kamu sudah mengenal sang waktu ? sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan waktu dan bagaimana kah pembagian waktu menurut Islam ? Nah, beberapa hari yang lalu saya mengikuti kajian unik yang membahas tentang sang waktu, karena merasa tertarik maka saya pun membaca beberapa literasi tentang hal ini. Sekedar keinginan untuk bisa berbagi di tengah waktu senggang saya (untuk sementara ini) dan sebagai pengingat saya di waktu yang akan datang, jadi buat teman-teman yang juga merasa tertarik, Let’s check it out !
                Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), waktu atau masa adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan / kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Tiap masyarakat memiliki pandangan yang relatif berbeda tentang waktu yang mereka jalani. Sebagai contoh : masyarakat Barat melihat waktu sebagai sebuah garis lurus (linier) yang diikuti dengan terbentuknya konsep tentang urutan kejadian. Dengan kata lain, sejarah manusia dilihat sebagai sebuah proses perjalanan dalam sebuah garis waktu sejak zaman dulu, zaman sekarang dan zaman yang akan datang. Berbeda dengan masyarakat Barat, masyarakat Hindu melihat waktu sebagai sebuah siklus yang terus berulang tanpa akhir. Lalu bagaimanakah Islam memandang sang waktu ?
                Sejatinya, dalam kehidupan kita, kita dianugerahi waktu. Waktu sama dengan kesempatan, dan kesempatan adalah nikmat terbesar yang dianugerahkan oleh Allah Swt. kepada kita. Waktu datang dan pergi. Hadir tanpa disadari dan terkadang lenyap juga tanpa disadari. Jika waktu sudah berlalu, maka tidak bisa diulang lagi. Tidak bisa dipanggil, dimodifikasi, atau didatangkan ulang. Kita memang bisa menunda pekerjaan, shalat, haji, shadaqah, puasa, menunda menyelesaikan tugas rumah tangga, menunda berkarya dan lainnya, tetapi kita tidak bisa menunda waktu. Jika kita menunda bekerja, hal itu bukan menunda waktu. Waktu terus berjalan, dan setiap tarikan napas kita makin mendekatkan kita ke liang kubur. Tidak ada yang bisa memperlambat waktu. Begitu pun, tidak ada yang mampu mempercepat waktu. Waktu yang tidak bisa ditunda dan dipercepat akan mempertemukan kita dengan ajal atau kematian. Ajal atau batas waktu hidup termasuk salah satu dari empat konsep waktu dalam Al-Qur’an yang kedatangannya tidak bisa ditunda atau dipercepat. Al-Qur’an membagi waktu dalam beberapa istilah, yakni ajal, dahr, ashr dan waqt itu sendiri. Keempat konsep tersebut memiliki karakter-karakter waktu.(1) 
                 Pertama adalah Ajal. Ajal merupakan satu istilah yang mewakili satu karakter waktu, yakni tidak bisa ditangguhkan, diperlambat, di delay, dimajukan, atau digagalkan sama sekali. Begitu pun, ajal tidak bisa dipercepat barang sedetik pun. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman :
“Katakanlah, ‘Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah.’Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).” (QS.Yunus [10] :49).
Dalam ayat yang lain, Allah Swt. juga menerangkan :
“Dan, Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya.Dan, Allah maha mengenal apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Munaafiquun [63]:11).
                Berdasarkan ayat tersebut, ajal berarti suatu batasan hidup bagi setiap orang. Apa yang terjadi saat batas hidup tersebut tiba? tentu kita tidak lagi memiliki waktu. Waktu yang diberikan oleh Allah Swt. selama hidup untuk digunakan sekehendak kita menjadi tidak bisa lagi digunakan. Jika waktu diibaratkan garis, maka ajal adalah ujung garis itu sendiri. Ajal adalah titik terakhir ketika garis itu berakhir. Titik awal garis tersebut adalah kelahiran, atau dalam konsep Al-Qur’an disebut dahr, yakni suatu titik permulaan, starting point, awal gerak waktu, awal mula manusia dan makhluk lainnya menjalani waktunya masing-masing.
                Kedua adalah dahr. Menurut Toto Tasmara dalam bukunya, Kecerdasan Ruhaniah (2001), dahr adalah asal mula waktu.Yakni suatu permulaan waktu ketika manusia belum disebut manusia. Dahr merupakan batas paling awal dari sebuah perencanaan, atau dalam konteks ini adalah penciptaan. Jika ajal menjadi batas akhir, maka dahr adalah batas awal atau starting point ketika manusia akan berjalan dan hidup di dalam kedua batas itu. (2) Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman :
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut ?”(QS. Al-Insaan [76] : 1).
                Ayat tersebut menunjukkan awal permulaan waktu ketika waktu belum dapat disebut. Saat itu, bukan hanya manusia yang belum diciptakan, tetapi juga seluruh makhluk. Setiap manusia yang hidup di dunia pasti memiliki awal. Setiap yang memiliki awal pasti memiliki akhir. Dan, setiap yang memiliki akhir juga pasti memiliki awal. Oleh karena itu, ajal dan dahr seperti dua sisi mata uang yang sama. Terpisah tapi tidak bisah dipisahkan.
                Quraish Shihab juga menjelaskan bahwa dahr adalah saat berkepanjangan yang dilalui alam raya sejak diciptakan hingga keruntuhannya. Proses panjang tersebut disebut dahr (3). Seperti dalam firman Allah Swt. berikut :
“Dan, mereka berkata, ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja. Kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa.’Dan, mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al-Jaatsiyah [45] : 24).
                Ayat tersebut mengkritik dan menentang pendapat orang jahiliah yang mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan atau kehidupan setelah kematian, karena hanya ada di dunia. Lebih parah, mereka menyangka bahwa dahr adalah penyebab semuanya. Dia (dahr) yang menghidupkan dan mematikan. Tentu pendapat ini ditentang oleh Al-Qur’an.
                Ketiga adalah Waqt. Menurut Quraish Shihab, waqt berartibatas akhir kesempatan atau peluang untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Oleh Karena itu Al-Qur’an sering kali menggunakannya dalam konteks kadar tertentu dari satu masa. Allah berfirman :
“Maka, apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa).Sesungguhnya, shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisaa’ [4] : 103).
                Berdasarkan ayat tersebut, kata “waqt” lebih dekat pengertiannya dengan periode atau ketika waktu digunakan.Waqt jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti waktu atau saat. Dan, konsep Waqtinilah yang paling banyak digunakan dalam percakapan sehari-hari, karena maknanya adalah waktu, yakni waktu untuk melaksanakan sesuatu. Dalam hal ini, waktu mengharuskan manusia untuk mengisinya, karena waktu yang diisi berarti waktu yang bermakna. Membuang-buang waktu berarti tidak mengisi waktu dengan apa pun atau mengisinya, namun dengan hal yang tidak semestinya, sehingga waktu hilang dengan percuma. Oleh karena itu, sering dikatakan bahwa orang yang panjang umur bukan orang yang lama hidupnya, lama waqt-nya di dunia, panjang jarak antara dahr dan ajalnya, melainkan orang yang mengisi waktu dengan hal-hal yang berguna dan bermanfaat, meskipun umurnya tidak lama.
                Jika ajal adalah akhir waktu manusia, dan dahr adalah awalnya, maka Waqtialah durasi antara dahr dan ajal.Bila ajal merupakan berakhirnya kesempatan, dan dahr menjadi awal atau permulaan dari kesempatan itu, maka waqt adalah saatnya mengambil kesempatan tersebut. Kita bisa bekerja karena ada waqt, bukan karena ada dahr atau ajal. Maka, inilah waktu yang harus benar-benar menjadi perhatian kita, karena Allah Swt. menuntut kita untuk mempergunakannya. Rasulullah Saw. juga mengkritik umatnya yang tidak paham dan mengerti apa yang harus dilakukan antara dahr dan ajal. Rasulullah Saw. bersabda :
“Ada dua kenikmatan yang membuat banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.”(HR. Bukhari).
                Hadits tersebut merujuk kepada Waqt, yakni kesempatan luas, waktu kosong, atau waktu luang ketika kita masih bisa menggunakannya untuk berbagai macam hal. Waktu kosong merupakan nikmat yang besar dari Allah Swt, tetapi kerap dilalaikan dan diabaikan keberadaannya oleh manusia.
                Keempat adalah ‘Ashr, yang dalam bahasa Arab adalah perasan. Tetapi, kata ini bisa diartikan waktu menjelang terbenamnya matahari.Bisa juga diartikan dengan masa secara mutlak. Makna tersebut diambil berdasarkan asumsi bahwa ‘ashr merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan manusia. Karena kata ‘ashrbermakna “perasan”, maka diasumsikan setiap waktu yang ada harus digunakan untuk memeras keringat dan pikiran demi kebaikan di dunia dan akhirat. Jika tidak, maka manusia akan rugi. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman :
“Demi masa.Sesungguhnya, manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”(QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3).
                Dalam ayat tersebut, kata “‘ashr” selain mengandung arti masa juga menyimpan makna lain di baliknya, yakni etos kerja. Manusia tidak cukup hanya mengisi waktu, tetapi juga perlu meningkatkan aktivitasnya dengan etos kerja yang tinggi, memeras keringat, membanting tulang, memeras pikiran, sehingga keluarlah saripati kehidupan membuat hidup lebih berarti dan lebih baik. Dengan demikian, lengkaplah dimensi waktu dalam Al-Qur’an, yang satu dengan yang lain saling terjalin membentuk sinergi yang harmonis. Satu bagian menjadi permulaan bagi bagian yang lain. Satu bagian lagi menjadi penanda bagi bagian yang lain.
                Itulah konsep dan pemahaman waktu dalam Al-Qur’an. Waktu bukan sekadar kesempatan atau durasi, tetapi juga memiliki sejumlah konsekuensi bagi pemiliknya. Siapa pun yang memiliki waktu akan dimintai tanggung jawab untuk apa waktunya digunakan. Mereka yang menghargai waktu termasuk orang-orang mukmin yang shalih, sedangkan mereka yang tidak menghargai waktu termasuk mukmin yang tidak shalih.Oleh karena itu, waktu diberikan oleh Allah Swt. kepada hamba-Nya sebagai nikmat yang harus disyukuri dan dihargai. Rasulullah Saw. adalah orang yang sangat menghargai waktu dan hati-hati dalam menggunakan waktu. Bahkan, beliau berpesan berkali-kali kepada umatnya untuk menghargai waktu.
                Nah, sekarang sudah lebih mengerti kan tentang konsep waktu menurut Islam, selanjutnya bagaimana penghargaan Rasulullah Saw sebagai panutan kita, terhadap waktu, dan bagaimana pula mengatur waktu yang baik ala beliau?. Untuk lebih jelasnya akan saya bahas di artikel selanjutnya. Buat yang penasaran, ditunggu ya, and tetep stay tune terus ya
……hoho…..In shaa Allah dalam proses. Untuk kritik, saran atau ada yang mau berbagai silahkan corat-coret di kolom comment di bawah artikel ini. Terima kasih banyak. Semoga bermanfaat ^_^

Sumber :
(1) Dr. Quraish Shihab, 1996. Wawasan Al-Qur’an ; Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat, hlm. 546. Bandung : Mizan.
(2) Toto Tasmara, 2001. Kecerdasan Ruhaniah; Membentuk Kepribadian yang Bertanggung jawab, Profesional dan Berakhlak, hlm. 154-159. Jakarta : Gema Insani Press.
(3) Dr. Quraish Shihab, 1996. Wawasan Al-Qur’an ; Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat, hlm. 547. Bandung : Mizan.
M. Sanusi. 2014. Meneladani Jam-jam Nabi Saw. dalam Beribadah dan Bekerja.Jogyakarta : Najah.

Selasa, 09 Agustus 2016

Between You and Me



              
Aku duduk termenung sendiri. Di atas hamparan pasir yg putih nan lembut. Berteman suara ombak memecah karang, juga semburat senja yang mulai memudar. Aku mengingatmu, mengingat tentang kita. Seperti yang selalu kulakukan selama 3 tahun belakangan ini saat senja datang, dan kebetulan aku sedang menikmatinya bersama kesendirian. Dan aku kembali mengingatmu, semua tentangmu, setiap detilnya. Bagaikan kumengenal setiap hembusan nafas yang kuhembuskan tanpa bisa kutahan. Walau berulang kali kuberusaha untuk menghentikannya, agar aku bisa bersamamu, atau setidaknya kuberharap sebuah Amnesia datang dan menghapus semua tentangmu, Tapi berapa kali pun aku mencoba hal-hal berbahaya itu, pada akhirnya hanya menyisakan kesepian yang semakin menghujam jantungku. Tak lebih dari itu. Setiap kali aku mengingat kematian.
            Kematian. Apa yang terbersit dalam pikiran orang-orang saat mendengar kata itu ?. Ketakutan, kesedihan, amarah, keputusasaan, ataukah kesepian. Bagiku, kematian berarti kerinduan. Kerinduan yang panjang akan sebuah penantian tak berujung. Sebuah kerinduan yang sia-sia karena aku sebenarnya sadar bahwa sebesar apapun aku merindu, tak akan mampu membawa orang yang kau rindu itu kembali ke dunia ini. Kerinduan yang akan menjelma menjadi sebuah ilusi akan hadirmu, sebuah kerinduan yang bersekutu dengan kenangan untuk menciptakan dirimu dalam wujud yang nyata. Senyata saat aku mampu melihat wajah teduhmu di tengah-tengah air laut yang mulai surut, , senyummu, bahkan kini aku mampu mengingat kembali aroma parfummu saat kita bertemu dulu. Begitu nyata. Dan shit ! aku pasti sudah mulai gila saat kumampu kembali mendengar suaramu yang memanggilku “Rhea….Rhea!”.
            Entah sudah berapa lama aku mencari arti dari sebuah kematian. Dan walau hari-hariku bergelut dengan kehidupan dan kematian secara bergantian, selama 3 tahun aku belum menemukan jawabannya. Sebuah kematian bukannya selalu sama. Membawa kesedihan bagaimanapun caranya. Walau aku berusaha merangkai kata-kata manis seindah mungkin untuk mengantarkan berita duka bagi seorang ayah yang anaknya meninggal sesaat setelah dilahirkan. Itu tak merubah apapun. Saat jenazah bayi mungil kuserahkan kepada sang ayah untuk melihat buah hatinya itu yang selama ini dirindukannya, tuk yang pertama dan terakhir kali. Aku hanya bisa diam terpaku saat lantunan adzan berkumandang di tengah suara isak tangis, sedu sedan yang tertahan, menyelimuti ketegaran seorang laki-laki yang rapuh. Serapuh manusia pada umumnya. Dan bagaimana setelah itu dia harus berusaha tersenyum menenangkan saat dia bertemu dengan istrinya yang masih lemah menahan sakit dan kesedihan sekaligus. Bagaimana kedua insan ini saling menguatkan, bahkan untuk kematian seorang bayi yang belum memiliki nama sekalipun, bukankah kematian itu tetap berat. Dan betapa dunia ini tak adil bagiku, karena setidaknya mereka saling memiliki untuk saling menguatkan. Sedang aku hanya mampu terdiam menyendiri. Ataukah saat kulihat sepasang suami-istri yang berusia lanjut tersenyum saling membahagiakan, bercengkrama bersama walau sang istri tahu bahwa waktunya hanya tinggal menghitung hari dan kisah ini kelak hanya akan menjadi kenangan indah ataukah sendu bagi sang suami yang akan ditinggalkan karena penyakit yang diderita kekasih hatinya itu. Sang suami yang terus berusaha memberikan kekuatan bagi istrinya, walau dalam kesendiriannya dalam sujud yang panjang dia hanya bisa menangis sepuas-puasnya di atas sajadah yang membisu. Tanpa sedikitpun diketahui oleh belahan jiwanya itu. Kematian, betapapun ia dipersiapkan bukankah ia tetap berat. Tapi masih tak adil bagiku, karena setidaknya mereka memiliki waktu untuk bersama walau tak ada kata cukup untuk itu. Sedang aku hanya harus pasrah menerima berita kematianmu yang begitu tiba-tiba sampai aku tak mampu melakukan apa-apa.
            Kau kembali memandangku penuh cinta, walau aku selalu menyeretmu kembali ke dunia yang sepi ini. Bukankah aku wanita egois yang kejam ?. Wanita gila yang tak peduli lagi tentang apa kata orang, bahkan berjuta teori tentang kehilangan, melepas dan menerima. Karena pada kenyataannya ini begitu sulit, Gil. Hidup tanpamu. Dan seketika aku mengutuk semua puisi tentang cinta, atau film-film romansa yang berisi saat tokoh utama laki-laki berkata kepada kekasihnya, “Aku rela mati untukmu.” Betapa bodoh dan egoisnya. Tidakkah sang penulisnya tahu, apa yang akan terjadi pada sang tokoh utama wanita jika lelakinya sudah tak ada di dunia ini. Lalu siapakah yang kemudian akan mencintainya, menjaganya. Meninggalkannya dalam kesendirian, keputusasaan, rasa bersalah sepanjang hidupnya. Tidak tahukah si pembuat skenario bodoh itu bahwa tidak dibutuhkan keberanian untuk mati, tapi ia dibutuhkan untuk tetap hidup. Bahwa apapun yang terjadinya seharusnya lelaki itu harus terus berjuang untuk tetap hidup, untuk tetap mencintai, tetap menjaga dan selalu berada di samping wanitanya. Dan kata-kata itu berubah menjadi “Aku siap hidup untukmu.”
            Gerimis datang tanpa diundang saat tanganku mengukir namamu di atas pasir yang fana ini. Nama kita. Rhea-Gildan. Berharap kau selalu hadir di setiap pantai yang aku kunjungi. Karena aku tahu kau sangat suka pantai, berbeda denganku yang lebih senang memandang matahari terbit diatas pegunungan. Karena kau berkata itu melelahkan. Tapi berapa kalipun aku melakukan ritual ini, tak mampu jua membawamu kembali hadir di sampingku untuk melihat senja di pantai seperti dulu. Kau tahu Gil, aku menikmatinya. Benar-benar menikmati kebersamaan kita ini, sampai tiba-tiba ingatan akan sebuah kalimat datang menamparku. Sebuah kalimat yg terlontar dari seorang laki-laki yang berusaha menembus batasku, batas kita berdua. “Berhentilah menganggap dirimu menjadi orang yang paling kehilangan atas kematian seseorang. Karena sesungguhnya kau bersedih bukan karena itu, tapi karena kau kehilangan sebagian jiwamu bersamanya.” Pria brengsek yang benar-benar sangat kubenci saat dia mengatakan itu padaku. Shit ! Kenapa aku membahasnya saat aku sedang mengenangmu. Di waktu-waktu yang sering kusebut sebagai “Our Time”. Tapi kau tahu Gil, yang berbeda darinya dibandingkan laki-laki lain yang berusaha menggantikan posisimu adalah dia tak pernah memintaku untuk melupakanmu. Dia malah berkata, “Saat kau mengenangnya, jika itu membuat seluruh jiwamu kembali utuh, maka mengapa kau harus berusaha melupakan dan menghapusnya, jika itu malah membuatmu kehilangan sebagian dari dirimu?”. Aku tak mengerti Gil, aku benar-benar tak mengerti dirinya. Seluruh upaya sudah kulakukan untuk membuatnya menjauh, membenciku, tapi semakin kuat ku mencoba dia hanya akan terus datang, dan datang lagi. “Kau tak pernah kehilangan siapapun, kau hanya kehilangan keberanian untuk kembali mencintai .” bisiknya saat aku pernah terpaksa menampar wajahnya saat dia berbicara tentangmu, Gil. Tentang kita.
            “Keberanian untuk kembali mencintai”. Apakah memang dibutuhkan keberanian untuk sekedar mencintai, Gil ?. Pertanyaan itu kembali kuulang-ulang, walau kutahu kau tak akan pernah menjawabnya. Langit semakin deras menumpahkan keberkahannya ke bumi. Menghapus perlahan nama kita yang telah susah payah kuukir. Aku menyerah. Hanya bisa memejamkan mata sesaat sebelum meninggalkan tempat ini. Dan saat itu, dalam sekejap, suara deburan ombak, desiran angin, dan rintik hujan bersekongkol menciptakan sebuah harmoni. Harmoni yang melantunkan sebuah kata manis yang memiliki resonansi mirip dengan suaramu. “Just be brave, Rhea…..”. Saat terkejut dan membuka mata, aku berusaha mencari sumber suara itu, tetapi yang kutemukan hanya sebuah perasaan hangat yang menyelusup perlahan ke dalam hatiku. Bersamaan dengan kehangatan yang mengalir di kedua pipiku. Dan senja pun terbenam menyisakan gelap yang begitu sepi. Meninggalkan aku sendiri.